Mengantar

Ternyata penjajahan itu terbentuk melalui keberadaan dua pihak. Yang satu bermaksud menguasai, yang satu polos tidak menyadari. Didukung dengan lemahnya kesiapan untuk membentengi diri dari oposisi. Pilihanmu pun dua, menjadikan pakem nilai budaya luhurmu sebagai yang terjajah, atau memagarinya dari yang asing.

Selamat menikmati kebebasan penuh jebakan yang membentang.

Selamat menentukan nasibmu sendiri setiap hari tanpa kehadiran orangtua yang dulu selalu bisa kamu lihat keberadaannya diruang makan.

Selamat menangis dalam kesusahan yang rasanya ingin menghantarkan kamu pulang.

Selamat keluar dari zona nyaman dimana kamu berada selama 20 tahun ini.

Karena itu semua akan membawa kamu menemukan siapa dirimu dan siapa penciptamu.

Perbanyak langkahmu, tambahkan laju dayungmu, pergi dan cari rumahmu.

Niscaya beribu-ribu jarakpun engkau bertamu, kembalilah engkau diberanda dan kudapati engkau dipangkuan ibumu.

 

Selamat merantau, kawan.

Perkaya dirimu dengan pengetahuan yang bukan sebatas Indonesia.

Jadikan dirimu warga dunia yang mencintai keberagaman yang bukan sebatas Nusantara.

Lihatlah dirimu dalam tiap pintu kesempatan yang terbuka lebar di benua yang bukan hanya Asia.

Kembalilah nanti untuk bangsamu, untuk nadimu yang berdenyut disini, untuk membangun cita-cita dan membagikan semangat itu demi ribuan lain yang tidak seberuntung engkau.

Tapi, tetaplah menjadi seorang anak bungsu perempuan dari keluarga jawa, yang selalu berkomitmen untuk produktif, yang selalu ingat bahwa dia dianugerahi sejuta talenta, yang kalau malam masih sering memanjati pagar rumah, dan yang guyonannya masih sama datarnya, namun ia mampu menembus batas mimpinya.

 

Things Worth Knowing About Coffee

dscf1648nn

“Black Gold” Movie Review & What Should We Know about The Global Coffee Trade


The film juxtaposes how the coffee drinkers of the western world gladly pay cheaper for the high-priced coffee drinks, fattening the bottom lines of big corporations — while the crushingly poor farmers producing those coffee beans barely make ends meet. We can depict the huge Inequalities from people in the Global South especially in Ethiopia and those in Global North along with coffee consumers who often clueless of the origin of coffee beans that they drink daily. Unfortunately, farmers in Ethiopia don’t know about updated prices of coffee in global market and they cannot make any price negotiation when the big company buy their coffee. Fair trade coffee become the highlighted part of the movie where there is monopoly done by the big companies and western world on coffee prices that hurt small farmers in Global South. Unlike other developed countries, country like Ethiopia doesn’t provide subsidies for their farmers to buy inputs because their Government lack of capacity to afford subsidies. Thus, these kind of subsidies are not the solution to the problem and that resulted in inability to compete in world market where most of global north farmers were being subsidized to increase exports of their countries. These Ethiopian farmers felt like after all these years, they didn’t get equal rewards from cultivating coffee. Moreover, we see here the hero of the film is Tadesse Meskela, an Ethiopian man who travels all over the world, trying to get the farmers he represents a better price for their coffee. We see him at the Ethiopian coffee auction, pointing out which big corporations are represented by who and we see him talking to, getting opinions from, and participating in the decision-making for coffee co-ops in Ethiopia. Tadesse Meskela who associated with Oromia Coffee Farmers Union, tried to eliminate long chain of coffee buying processes and turned it to simpler process — from farmer to cooperative through their union and directly to the roaster. 60% of the chain is removed by working through co-operatives. Here we can see the importance of union as to help local farmers understand the global market situation and give them knowledge on how to improve their life in general as coffee farmers. Many farmers, triggered by money incentive also willing to grow chat (a kind of narcotic which is banned in United States) because it’s price is higher than coffee.

Sudama, the region where starbucks company get their coffee from, experienced severe famine. The people from outside their region helped to build therapeutic feeding centre as a treatment centre to address malnutrition. This malnutrition phenomenon is resulted from lack of knowledge on public health and lack of access including economic, social, and physical access to get food in their region. Not only malnutrition, the people in Ethiopia also suffered from lack of access to basic necessities such as water, food, and housing which are crucial for determining the quality of their livelihood. Further, these Ethiopian farmers also recognized the importance of education as a key to development. Their low economic capability made it hard for them to build decent school for their children in their community. After WTO meeting in 2003, Global South who was disappointed with the result of the meeting, felt like the Global North stood up for the right of corporations instead of small farmers. This power based organizations tried to manipulate Global South with regulations that hurt smallholders for the sake of greater profit. After that, US intensified their supplies on USAID for Ethiopia. The locals were not happy with the situation because they thought that if this continue in the long term, the future generation will have beggar mindset.

This case of Ethiopia is the perfect example on how AID created dependency among the receiving countries. Many of them didn’t feel like they have the capability to stand on their own feed anymore to provide for their families. This dependency will continue if the Ethiopian farmers were not given the right knowledge and platform to develop their own skills to compete in the global market. This can be done through school for farmers such as Farmer Field School and building local organization to provide farmers with necessary equipment and skills to increase their capability. Lastly, as a consumer, choose to buy Fair Trade Coffee. When we choose to buy Fair Trade, we are casting a vote for the ethical treatments of the laborers around the world who are responsible for our daily coffee fix!

Link: http://blackgoldmovie.com

 

 

 

Rantau

Katanya resah, pulang harus bawa nama
Pulang harus bawa jaya
Harta atau raga jadi taruhannya
Usaha campur aduk rasa
Lebur ragu lebur sendu
Lagukan keruh biar syahdu ditaman berlabuh
 
Kecil hatimu tutup
Besar hartamu redup
Goreskan seonggok harum mawar
Maka jaya dikala ibu sedang terlelap
Maka mekar ditaman tak berpenghuni
Redupnya kamu bakar
Bergeming saja tak kunjung berakar
 
Tidak ragu menyusuri rimbun, pulang saja nak
Ibu tak akan meragu, tak akan tutup buku
Ladangnya masih bisa digarap, masih harus disemai

Pulanglah, bantu ibu 

Seberapapun kebisaanmu

dscf4453nn

Jebakan Revolusi

fullsizerender-2

8 Januari 2017,

Hari ini seharusnya menjadi sebuah hari Minggu yang biasa-biasa saja, jika saya ga diajak mama untuk pergi ke Cilandak di jam-jam ngantuk. Kami pergi bukan buat cari makan   atau belanja bulanan, tapi berpartisipasi dalam sebuah gerakan yang saya rasa berujung pada konotasi “terjebak” karena mama udah beliin baju seragam kotak-kotak duluan sebelum mengutarakan ajakannya ke saya dan kakak saya. Dan awalnya, dengan rasa terjebak itu pula saya hadir disana hari ini. Tapi sesampainya disana, senja hari Minggu itu berubah warna dari kelabu karena musim hujan dan seringnya suara petir menggelegar menjadi riuh gempita menggaung untuk satu suara. Saya merinding (terakhir merinding kaya gini pun saya lupa kapan)

Sore itu kami bermufakat nampaknya untuk mewujudkan demokrasi sehat, berdiri untuk menyongsong keadilan yang sebenernya kita ga sadari. Iya, sedalam itu.  Suara massa seperti ini tidak mungkin suara basa-basi biasa yang bisa disekap oleh binar politik uang, suara ini seperti sebuah dentuman ketulusan warga mendukung seorang pemimpin yang dimana hal ini sudah jadi asing di dunia politik negeri beberapa tahun belakangan ini.

Saya menulis ini bukan sebagai seorang pendukung Ahok-Djarot walaupun memang saya mendukung mereka, saya menulis ini sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang warga negara yang tercengang karena makin banyak orang yang mau berpartisipasi aktif dalam demokrasi. Saya sering memantau perkembangan berita dan kinerjanya, tapi saya tidak pernah mempunyai pikiran sebelumnya untuk ikut berpartisipasi langsung selain menyoblos saat hari pemilu. Paling tidak itu saja yang bisa saya buat. Tapi sekarang, karena proses penjebakan yang mama lakukan, saya menegerti betapa seru (karena ternyata ikut sebuah gerakan berbau politik itu tidak melulu harus membosankan) dan pentingnya untuk bisa ikut nyemplung menyuarakan opini positif. Ingat, ini bukan sekedar dukungan untuk seorang politisi, tapi seorang aktivis birokrasi bersih yang sedang dicoba-coba untuk dijatuhkan karena keberhasilannya mengubah keruhnya wajah pemerintahan negeri, ini dukungan untuk demokrasi Indonesia.

Tidak mungkin ratusan orang rela hadir disini, berdesak-desakan, buang2 bensin, macet2an, atau merelakan waktu hari minggu bersama keluarganya untuk datang tanpa ada satu motivasi tulus ingin mendukung orang yang telah memperjuangkan kotanya yang selama ini carut-marut. Sejauh yang pernah saya rasakan, belum pernah saya tergerak sebegitunya untuk tak jemu berdialog dengan teman atau orang yang baru saya kenal tentang seorang pemimpin kota, dan sejauh ini baru Ahok yang bisa membuat saya berapi-api menyuarakan kegelisahan. Saya sadar, ini bagian dari perjuangan yang harus terus dilanjutkan, gerakan ini hanya awal, bagian kita masih banyak untuk bisa mendukung tokoh bersih lainnya yang sedang coba ditenggelamkan. Ini sebuah momentum baik yang bisa merepresentasikan dukungan kita bagi pemimpin bersih lainnya.

Menyusuri keramaian dan semangat dari berbagai kalangan sore ini, saya jadi makin mengerti kemanusiaan itu tidak perlu dipertanyakan eksistensinya lagi,  keberagaman itu jadi kunci keharmonisan, peka akan isu2 sekitar itu penting, karena hal2 kaya gini membuat kita mau ikut ambil andil, atau paling tidak tak usah jauh2 ngomong soal ambil andil dalam gerakan politik, jebak saja diri sendiri dalam menyebar dan menyirami benih2 bersih ditengah lingkungan, dukung mereka yang selalu ditekan oleh ketidakadilan yang didasari oleh kepentingan segelintir kelompok. Maka dari itu ini jebakan yang saya ambil, hari ini saya memberikan dukungan saya untuk seorang tokoh yang sudah teruji, langkah yang saya harap bisa menyirami benih bersih buat negeri tercinta.

Bhinneka

Karena pendidikan agama harus pula dibarengi dengan pendidikan formal, supaya kita bisa memahami luasnya dunia yang penuh keberagaman dan bagaimana harus menyikapinya dengan elok. Begitupula sebaliknya. Kepekaan harus ikut dipupuk, bukan hanya mengejar ijazah semata tanpa didukung kecerdasan emosional.

Untuk yang masih mencari definisi, masih belum bisa mendengar, ataupun yang sudah muak tapi masih ingin terus berjuang menyuarakan yang benar,

ini toleransi Indonesia di mata seorang mahasiswa yang masih terus memiliki harapan pada semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang sedari dulu diajarkan di bangku sekolah:

kumpulan rasa dilebur jadi satu gelagat bukan fana
bersenandung gempita adapula bisikan-bisikan jera
entah mengapa kita bertenggang rasa
tapi kurasa karena benar kita terus berusaha
mencipta raga diatas tanah berjiwa bara
dikala tumpuan kita menantang ke jurang yang berbeda

Sudah, Malam.

8R2A1885h.jpg

Sepertinya tidak mengapa yang sudah-sudah disudahkan saja. Ini seperti terbangun dari tidur lalu tak mampu terlelap lagi bukan?

Terpecah sudah konsentrasi akan nyamannya kasur empuk dan sosial media yang memanggil-manggil untuk diintip, eh keterusan. Beranjak menapak lantai, menyapa diri di cermin dengan perasaan setengah kaget bertanya mengapa rupa ini begitu berminyak. Berbaring sejenak disofa ruang tengah, memencet tombol remote untuk mencari sedikit pengetahuan akan dunia hari ini dengan drama nya yang kian membuat muak. Kerongkongan kering sama sekali belum mengecap segelas air. Hendak ke dapur tapi apa daya galon seliter yang baru diisi kemarin hanya tinggal menyisakan dua tetes kesegaran.

Duduk didapur menatap kosong ke arah jendela, dan segala polemik pecah piring menggeliat kembali dikepala. Tragedi runtuh atap dan teriakan tetangga sebelah mencuat di pemikiran hitam yang tadinya hening. Suasana runyam dimana emosi diperas untuk kesekian kalinya, terkucur deras, melilit keras. Butuh jarak, butuh senyap. Sebisa-bisanya mengatup sukma, selalu ada celah kecil berlubang menerima sesal menghinggap walau sebentar. Karena kenyataannya ia sempat jadi korban, namun sekarang malah mengorbankan yang lain.

Pagi belum datang, ini masih malam. Buang jauh, buang keruh.

Sudah lebih baik kembali ke kasur dan terlelap untuk beberapa jam lagi bukan?

 

Tidak Menuntut

8r2a1630y

terima kasih untuk ketidaksempurnaan yang ditaruh dipelupuk mata saya

untuk semua yang ada sudut-sudut wajah saya

dengan segala kecakapannya untuk membuat saya mengerti

bahwa hidup tidak menuntut

ia tidak menuntut rupanya yang sempurna

ia tidak menuntut saya keluar dari ketidaksempurnaannya

mengerti bahwa ia mencari yang bisa menerima

menyadari keburukan dikala banyaknya kepiawaian

 

jangan merasa tertuntut, dirimu sendiri yang terlalu banyak menuntut

karena rupa ini salah satu hadiah terbaik 

diantara banyaknya hal-hal baik lain yang diberi untukmu